
Washington (ANTARA News) - Tindakan bunuh diri di kalangan tentara Amerika Serikat bertambah dalam tiga tahun belakangan, bahkan mencapai tingkat tertinggi dalam 25 tahun terakhir, ungkap data yang diterbitkan militer, Kamis.
Petinggi militer mengaitkan peningkatan yang meresahkan tersebut dengan masalah perkawinan dan semakin panjangnya serta semakin banyaknya penugasan ke Irak maupun Afghanistan.
"Saya pikir itu adalah penanda adanya stres pada tentara," kata Kolonel Elsbeth Ritchie, konsultan psikiatrik militer, lalu mengatakan "keluarga-keluarga (tentara AS) sudah letih".
Data yang diterbitkan militer tersebut memperlihatkan angka bunuh diri maupun percobaan bunuh diri melonjak pada tahun 2006 setelah merambat naik sejak AS berperang di Afghanistan dan Irak.
Menurut data tersebut, lebih dari dua ribu tentara mencoba bunuh diri atau melukai sendiri pada tahun 2006, sedangkan pada tahun 2002 jumlah kasus tersebut 375 kejadian.
Pada tahun 2006, terdapat 102 tentara aktif yang melakukan bunuh diri, jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari kasus pada tahun 2001, ungkap data tersebut.
Angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah bunuh diri bahkan semakin tinggi pada tahun 2007, dengan 89 kasus dipastikan bunuh diri dan 32 kematian lainnya masih menunggu penegasan sebagai bunuh diri.
Menurut Ritchie, sebagian besar kasus bunuh diri itu diakibatkan masalah dalam hubungan, dan hanya sebagian kecil yang berlatar masalah hukum, keuangan atau masalah kerja.
"Kalau orang membawa senjata yang sudah dikokang, seringkali bunuh diri terjadi tiba-tiba. Misalnya ada yang mendapat `email` dari pasangannya dengan kalimat `saya ingin cerai`, lalu dia menembak diri sendiri," katanya.
Laporan insiden bunuh diri itu mengisyaratkan bahwa orang tidak akan bunuh diri kalau sebab langsungnya adalah pertempuran, kata Ritchie.
""Tetapi, kerapnya penugasan telah membuat hubungan menjadi tegang, dan hubungan yang tegang serta perceraian sudah mutlak berhubungan dengan meningkatnya bunuh diri."
"Masalah lain adalah kelainan stres pasca-traumatik, kelainan stres pasca-traumatik secara sejarah serta penggunaan Narkoba.
Dari 102 tentara aktif pada 2006, 72 bunuh diri saat tidak bertugas ; 27 ditugaskan ke Irak; dan tiga di Afghanistan.
Kebanyakan yang bunuh diri adalah pria muda antara 18 dan 24 tahun, dan terdapat 11 tentara wanita yang bunuh diri sepanjang 2006.
"Itulah jumlah tertinggi bunuh diri tentara perempuan, setahu saya," kata Ritchie dikutip AFP.(*)
(sumber: antara)
Komentar Masa Fm:
Yang dicari tentara Amerika adalah kehidupan dan kejayaan. Wajar, jika mereka mencari kehidupan akan berefek sebagaimana di atas. Kita tentu ingat dengan kedigjayaan pasukan kaum muslimin. Mereka benar-benar ditakuti. Bukan karena mereka antistress atau peralatan perang mereka yang lebih lengkap dari tentara Amerika. Tapi mereka mencari kematian dan kemuliaan atas agama dan ummatnya. Mereka tidak sempat lagi memikirkan, apakah istri mereka di rumah meminta cerai atau harta mereka akan dirampas. Karena mereka yakin, Allahlah yang menjaga semuanya.
Sungguh... ini bukanlah romantisme sejarah. Jika saja Kaum muslim mau bersatu dalam naungan Khilafah, maka tentara-tentara Amerika akan bisa menyaksikan bagaimana kedahsyatan tentara kaum muslimin.
Mudah-mudahan Allah sesegeranya menegakkan Khilafah. Amin....
Petinggi militer mengaitkan peningkatan yang meresahkan tersebut dengan masalah perkawinan dan semakin panjangnya serta semakin banyaknya penugasan ke Irak maupun Afghanistan.
"Saya pikir itu adalah penanda adanya stres pada tentara," kata Kolonel Elsbeth Ritchie, konsultan psikiatrik militer, lalu mengatakan "keluarga-keluarga (tentara AS) sudah letih".
Data yang diterbitkan militer tersebut memperlihatkan angka bunuh diri maupun percobaan bunuh diri melonjak pada tahun 2006 setelah merambat naik sejak AS berperang di Afghanistan dan Irak.
Menurut data tersebut, lebih dari dua ribu tentara mencoba bunuh diri atau melukai sendiri pada tahun 2006, sedangkan pada tahun 2002 jumlah kasus tersebut 375 kejadian.
Pada tahun 2006, terdapat 102 tentara aktif yang melakukan bunuh diri, jumlah tersebut hampir dua kali lipat dari kasus pada tahun 2001, ungkap data tersebut.
Angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah bunuh diri bahkan semakin tinggi pada tahun 2007, dengan 89 kasus dipastikan bunuh diri dan 32 kematian lainnya masih menunggu penegasan sebagai bunuh diri.
Menurut Ritchie, sebagian besar kasus bunuh diri itu diakibatkan masalah dalam hubungan, dan hanya sebagian kecil yang berlatar masalah hukum, keuangan atau masalah kerja.
"Kalau orang membawa senjata yang sudah dikokang, seringkali bunuh diri terjadi tiba-tiba. Misalnya ada yang mendapat `email` dari pasangannya dengan kalimat `saya ingin cerai`, lalu dia menembak diri sendiri," katanya.
Laporan insiden bunuh diri itu mengisyaratkan bahwa orang tidak akan bunuh diri kalau sebab langsungnya adalah pertempuran, kata Ritchie.
""Tetapi, kerapnya penugasan telah membuat hubungan menjadi tegang, dan hubungan yang tegang serta perceraian sudah mutlak berhubungan dengan meningkatnya bunuh diri."
"Masalah lain adalah kelainan stres pasca-traumatik, kelainan stres pasca-traumatik secara sejarah serta penggunaan Narkoba.
Dari 102 tentara aktif pada 2006, 72 bunuh diri saat tidak bertugas ; 27 ditugaskan ke Irak; dan tiga di Afghanistan.
Kebanyakan yang bunuh diri adalah pria muda antara 18 dan 24 tahun, dan terdapat 11 tentara wanita yang bunuh diri sepanjang 2006.
"Itulah jumlah tertinggi bunuh diri tentara perempuan, setahu saya," kata Ritchie dikutip AFP.(*)
(sumber: antara)
Komentar Masa Fm:
Yang dicari tentara Amerika adalah kehidupan dan kejayaan. Wajar, jika mereka mencari kehidupan akan berefek sebagaimana di atas. Kita tentu ingat dengan kedigjayaan pasukan kaum muslimin. Mereka benar-benar ditakuti. Bukan karena mereka antistress atau peralatan perang mereka yang lebih lengkap dari tentara Amerika. Tapi mereka mencari kematian dan kemuliaan atas agama dan ummatnya. Mereka tidak sempat lagi memikirkan, apakah istri mereka di rumah meminta cerai atau harta mereka akan dirampas. Karena mereka yakin, Allahlah yang menjaga semuanya.
Sungguh... ini bukanlah romantisme sejarah. Jika saja Kaum muslim mau bersatu dalam naungan Khilafah, maka tentara-tentara Amerika akan bisa menyaksikan bagaimana kedahsyatan tentara kaum muslimin.
Mudah-mudahan Allah sesegeranya menegakkan Khilafah. Amin....
2 komentar:
Menyedihkan...
kalau aku jadi presiden as, akan aku suruh semua tentara untuk masuk Islam. Biar pada kuat mentalnya. aku akan hentikan imprealisme yang aku lakukan, ganti dengan futuhat... hehehehe biar tentara2ku masuk surga kalo mati...
Posting Komentar